4. Ceracau (end)

Berkabung Aku Terbangun pada pagi ini dengan sambutan sahabatku, Si Pena. Seakan ia ingin berkata kepadaku Katanya “Tak usah kau gunakan aku! jika hanya untuk menuliskan sajak-sajak bunuh dirimu.” Itulah yang ia katakan saat aku menatapnya dalam diam. Aku heran saja kepadanya. Bukankah kematian itu adalah ketika tidak berfungsi lagi. Sama seperti pena, jika aku […]

Read More 4. Ceracau (end)

4. Ceracau (4)

Terkepung Dingin dan sendiri, dikepung hujan dan lara. Menghadapi realita bertubi-tubi, melihat keburukanku dan insan lain. Kegusaran membuka kebenaran dan maksud belakang mereka. keuntungan dan kepentingan adalah keinginannya, ikhlas ia tolak dalam batin. Kata ikhlas hanya salam dalam mulut. Permintaanku pada yang abadi adalah pengampunan atas perkataan yang tidak pantas. Menilai maksud-Nya dengan bersandar pada […]

Read More 4. Ceracau (4)

4. Ceracau (3)

Kebijaksanaan Dalam semua pertanyaan selalu membuatku tahu tentang bagaimana kosong dan penuh. Mengingatkan aku pada setiap kebijaksanaaku. Kemudian aku menikmati asap, sambil berkata dalam sajakku; Asap ini naik, menembus cakrawala pikiranku. Baranya Membakar setiap pohon kebijaksanaanku. Siapa aku? Aku seperti asing dengan raga. Rasa dan pikir seperti tertidur sejenak. Mungkin asap dan bara adalah puncak […]

Read More 4. Ceracau (3)

4. Ceracau (2)

Pertanyaan-pertanyaan Apakah rindu itu bisa bangkit dan menghadirkan cinta? Apakah ia tidak ingin memandang luka dan usaha yang sia-sia? Apakah aku akan cepat berbalik dan mulai memperhatikan jalan-jalannya dan setiap kebodohan insani ini? Apakah akan aku pandangi terus ia? Untuk yang fana Untuk dinda; Apakah aku bisa menghidupimu dengan kata-kata? Sedangkan aku diperhadapkan dengan harta […]

Read More 4. Ceracau (2)

4. Ceracau

Aku dan kamu adalah suara-suara dari setiap kenangan dan tujuan. Setiap suasana selalu membangkitkan sesuatu dari kubur ataupun dari perpustakan. Memberi duri ataupun mahkota keindahan. Membuatku sendiri berkata-kata tidak karuan layaknya kendali kapal hilang nahkodanya. Terkadang berkicau dengan merdu seperti burung yang sedang kasmaran karena birahi, dan bukan karena cinta: (1) Saat itu aku sedang […]

Read More 4. Ceracau

3. Kebodohan (4)

Persahabatan Dalam sendiri aku merenungi kesendirian. Apakah benar aku sendiri atau menunggu pemikiran bahwa aku sedang membimbing. Terkadang merasa tidak berkawan, karena kesendirian. Namun tersadar akan nilai persahabatan tidak hanya pada nilai kehadiran atau pun nilai perhatian. Namun juga tidak jauh dari nilai kehidupan yang membimbing. Membimbing kepada kesendirian dan perenungan dalam. Lalu menuntun pada […]

Read More 3. Kebodohan (4)

3. Kebodohan (3)

Puan yang cerdik Alkisah hiduplah puan yang cantik parasnya. Puan sangat menyayangi keluarga dan taman-temannya, yang membuat ia tak sungkan untuk menunjukan rasa cintanya di tempat umum. Suatu saat ia bertemu sang pria yang membuat hidupnya merasakan cinta yang rindu akan relasi suci. Sang pria merasa demikian dan rela memberikan barang-barang yang dapat menyenangkan puan. […]

Read More 3. Kebodohan (3)

3. Kebodohan(2)

Penghianatan Aku kesal melihat permaiannya; ia puan yang cerdik saat itu. Aku hanya saksi dan cinta hanya sunyi. Ia menjadikan dirinya korban akan ketidakadilan. Seakan ia ingin menyalibkan diri, tapi untuk menyelamatkan siapa? Sedangkan yang ku lihat semua telah tersalib dengan tipu dayanya. Ia hanya ingin menyelamatkan kesenangannya, karena ini hidup adalah hidup yang dimilikinya. […]

Read More 3. Kebodohan(2)

3. Kebodohan

Aku menemukan diriku berkarib dengan asap, bersamanya aku berbicara akan suasana. Saat itu aku tiba-tiba bergumul bersama bijak. Pada akhirnya aku menjadi pelukis suasana saat itu; Asap itu terhembus lepas menuju cakrawala pikiran, menghadirkan bayang gelap tentang keinsanan. Sukma itu terdiam tanpa kata-kata, yang berbicara hanya kefasikan dalam kemuliaan. Kertas itu telah menua dengan noda, […]

Read More 3. Kebodohan

2. Kembali(3)

Terburu-buru Setelah peristiwa itu aku kembali dipertemuakan dengan Asa. Ketika aku bertemu dengan Asa, dia telah memandang ladang tanpa rumput dihari esok. Membuat ia cemas memikirkan Kenyataan yang di dalam, dan rasa yang tidak tertahankan, membuat ia terburu-buru sekarang. Pandanganya kabur karena dihalangi cinta insani. Asa berubah menjadi kepanikan sesaat, dan keputusan menjadi sebuah batu […]

Read More 2. Kembali(3)