2. Kesendirian

Sekarang, insan ini menunggu pada takdir raga dan jiwa, untuk menemani menempuh laut dan gunung dunia ini, dengan alat yang bernama sendiri aku berjalan. Melacak siapa yang harusku raih dengan Kata-kata, menemukan apa yang bernilai dan tepat guna. Namun aku mulai resah memikirkan yang sudah-sudah, memikirkan yang belum tergapai dan terhadapi, memikirkan akibat yang akan terjadi dari asimilasi dengan yang sudah-sudah. Resah karena menyadari terlarut dalam insani yang merindukan mawadah. Mungkin dalam keresaan diri yang juga menghampiri dalam kesendirian ragawi, akan sedikit memberi hidup dalam piker. Namun yang juga  terkadang membawa pada dukacita akan relasi yang telah terjalin. (asw)

Resah yang sendiri

Resah hati ini memikirkan sang pujaan hati.

Resah hati ini menunggumu di tempat ini.

Menunggu sendiri di ruang sepi, aku meratap sendiri.

Malam demi malam telah berlalu parasmu di mimpiku, berlalu juga kenagan di pikirku.

Mengganggu sendiri dengan harap sepi dan aku bersandar pada kesendirian

 

Kesendirian yang telah menjadi teman telah mengundang temannya resah ke dalam persekutuan kami. Membuatku lebih hidup dengan berbagai pikiran dan rasa yang bercampur aduk dengan kenyataan dan mimpi belaka. Disaat resah mengajukan banyak pertanyaan yang sulit kujawab membuatku ingin sejenak mungkam dan bersandar pada sendiri, teman terbaikku. (asw)

sumber: gambar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s